Gereja Mlesen, yang berlokasi di dusun Mlesen, Pondokrejo, Medari, Sleman yang secara hirarkis dibawah Paroki Medari, Sleman meski belum seratus persen berdiri dan layak untuk dipergunakan sebagai tempat ibadah, namun menorehkan “luka” yang tak terlupakan bagi warga setempat khususnya umat Katolik yang dengan kesabaran, ketabahan, keuletan, bahu membahu mendirikan Kerajaan Allah di atas bumi Mlesen.
Bukan semata-mata disebabkan ketiadaan dana yang membuat proses pembangunan berjalan tersendat-sendat, akan tetapi munculnya sekelompok orang yang mengatasnamakan sebuah organisasi massa yang mencoba merintangi umat Katolik di kawasan Mlesen dalam upaya mendirikan tempat ibadah. Tindakan yang melawan hukum dengan menyuruh paksa menurunkan genteng bahkan menyegel bangunan tersebut menunjukkan sikap arogan seakan berkuasa atas pendirian tempat ibadah. Meski demikian, umat Katolik yang tersebar cukup banyak di dusun Mlesen dan sekitarnya sama sekali tak menunjukkan perlawanan. Dengan sikap introspeksi, akhirnya panitia pembangunan gereja berusaha menyelesaikan persoalan administrasi yang menjadi inti permasalahan.
Menurut aturan pendirian tempat ibadah, sebuah bangunan bisa didirikan bila memiliki umat minimal 90 orang. Kalau dalam 1 lingkungan atau kelurahan belum mencukupi bisa bergabung dengan lingkungan atau kelurahan lain. Kalau itu juga belum mencukupi masih bisa ditambah dengan lingkungan atau kelurahan lain yang masih di dalam satu kecamatan. Begitu seterusnya hingga kuota terpenuhi. “Padahal untuk wilayah Mlesen sendiri kami sudah mampu karena satu lingkungan saja terdiri dari sekitar 30 KK yang diasumsikan ada sekitar 90 orang,” jelas Aris, salah satu tokoh umat Katolik yang juga prodiakon ketika berbincang dengan PRABA di rumahnya.
Sementara kehidupan warga Mlesen sehari-hari menurut Aris terbina cukup baik terlebih dalam kerukunan umat beragama. Satu dengan lainnya saling menghormati bahkan saling berbagi rasa. Dicontohkan bila ada umat Katolik yang meninggal, umat muslim ikut terlibat mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk pelaksanaan. Natal atau Paskah pun demikian, kami mengundang mereka dan mereka pun hadir. Sebaliknya bila mereka mengadakan peringatan hari raya seperti lebaran, Maulud, atau perayaan keagamaan lainnya sudah tidak memandang agama, tetapi terbagi dalam blok blok utara dan selatan. Kalau blok utara menyelenggarakan hajat, kami ikut menyumbang sebaliknya demikian. Adapun ketika nyadran, yang mempunyai ahli waris tetap menyumbang tidak pandang mereka pemeluk agama apa. Hal itu bertujuan untuk pembangunan dan perawatan. “Jadi sebetulnya kami tidak ada masalah bahkan bisa dikatakan sangat rukun,” ujar Aris yang mantan Ketua Lingkungan.
Menyoal riwayat pembangunan gereja yang pernah menjadi persoalan hangat di Mlesen dimana melibatkan pihak pemerintah kabupaten hingga ditingkat desa serta instansi terkait ini, Aris mengisahkan waktu itu pihaknya belum mempunyai tempat ibadah yang layak, hanya sebuah bangunan rumah terbuat dari gedheg. Itu pun pemberian dari seorang warga ketika masih hidup. la menghibahkan rumahnya yang berbentuk pendopo untuk tempat ibadah yang kemudian oleh umat setempat dijadikan kapel. Sementara di sisi lain diakui bahwa pihaknya secara administrasi belum mempunyai surat keterangan atau ijin mengingat lokasinya di pinggir sungai.
Seiring berjalannya waktu, pemilik yang telah menghibahkan rumah dan bangunan tersebut meninggal dunia. Para pengurus kemudian berinisiatif mengurus kepemilikan agar lebih jelas statusnya. Akan tetapi pihak keluarga hanya memberikan bangunannya saja, sedang tanahnya diminta kembali. Meski demikian, para pengurus memindahkan bangunan pendopo ke lokasi yang sekarang yakni di belakang bangunan gereja.
Lantaran kapel terlalu sempit sementara ada seorang umat bernama Antonius Sumar yang sukses berkarya di Jakarta, dia bermaksud menghibahkan tanah miliknya seluas 700 meter persegi yang terletak di sisi utara rumahnya yang dimaksudkan sebagai perluasan kapel. Bahkan ketika dirasa kesempatan secara finansial itu ada, ia bermaksud mendirikan,bangunan gereja yang lebih layak di atas tanah tersebut.
Maka, sambil menunggu pembangunan gereja, misa masih menggunakan bangunan kapel yang lama. Itu pun untuk Jumat pertama atau minggu biasa bagi umat di lingkungan. Sedang untuk bangunan baru dipergunakan pada waktu tertentu. “Yah maklum saja namanya manusia masih punya rasa takut. Tetapi saya justru mantap dan yakin karena kami tidak punya rencana berbuat jelek. Jadi untuk Selasa dan Jumat Kliwon untuk tirakatan. Pokoknya mohon keselamatan. Bahkan dulu ketika masih gencar-gencarnya demo kami mengadakan novena dan memohon kepada Tuhan melalui Roh Kudus agar orang yang belum mengenal Yesus disadarkan,” papar Aris.
Tentang mengapa bisa terjadi demo yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan sebuah organisasi massa, Aris mengatakan hal itu semata-mata didasarkan pada kecemburuan sosial selain lokasinya yang strategis, bangunannya bagus, dan yang lebih penting mereka belum memahami Katolik itu seperti apa.
Kini, segala kegetiran itu telah berlalu berganti dengan secercah harapan dengan terwujudnya gereja yang dapat menampung seluruh umat Wilayah IV yang terdiri dari 4 lingkungan yakni Mlesen, Temanggung, Batang dan Keceme dimana masing-masing lingkungan terdapat sekitar 30 KK saat sekarang ini boleh dikata berlega hati mengingat kondisi bangunan gereja yang mendekati penyelesaian. Hal itu selain berkat dukungan dana Anton Sumar, salah seorang tokoh masyarakat yang memiliki inisiatif mendirikan gereja tersebut, juga dukungan moral umat Katolik yang tak henti-hentinya berjuang agar pembangunan gereja segera selesai.
Sementara Uskup Agung Semarang Mgr. Ign. Suharyo, Pr ketika berkesempatan mengunjungi umat beberapa waktu lalu mengatakan rasa syukur atas berdirinya tempat ibadah yang telah melalui proses panjang dan berliku akan tetapi tetap tegar berdiri dan mampu menghadapi tantangan jaman diantara kondisi serta situasi yang tidak menentu. Bahkan dalam kesempatan tersebut Bapa Uskup membuka pintu lebar-lebar apabila umat membutuhkan uluran tangan apapun bentuknya.
Meski demikian, Aris juga mengakui bila umat juga ikut berpartisipasi meskipun tak banyak.”Jadi dulu sebelum genting naik, kami membutuhkan reng sementara saya mempunyai warga yang kebetulan berdomisili di Surabaya. Saya meminta bantuan kepada dia yang ternyata disetujui dengan memberi bantuan Rp 1,5. Uang itu lalu kami pergunakan membeli reng. Sedang partisipasi umat sebatas kemampuan mereka seperti memberi makan kepada pekerja atau dalam bentuk lain,” jelasnya. Saat ini pembangunan gedung yang telah menelan dana tak kurang Rp 700 juta tersebut sedang dalam tahap finishing. Adapun Anton Sumar sebagai penyandang tunggal, yakin dan tetap optimis serta konsisten mampu menyelesaikannya entah kapan karena semua itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Terlebih sampai sekarang ia sudah mengeluarkan dana ratusan juta rupiah. “Istilahnya ada uang sedikit dipergunakan untuk meneruskan pembangunan, kalau tidak ada berhenti dulu. Jadi tidak ada target, tapi saya optimis karena saya sudah bertekad hendakmenyelesaikannya meskipun tidak bisa dipastikan waktunya,” ujar Anton Sumar.
Pihaknya juga berharap dengan berdirinya gereja tersebut, kelak umat di Wilayah IV Santo Markus dan sekitarnya mampu menyumbangkan waktu dan tenaganya demi perkembangan Gereja ke depan serta mampu pula menghadapi tantangan jaman yang semakin sulit. (Ton)
(Sumber: Praba, Tahun ke 60 No. 06-Maret-II-2009)